Jumat, 08 November 2019
Jumat, 01 November 2019
Jumat, 25 Oktober 2019
Senin, 21 Oktober 2019
SUKSES PROGRAM PAKAN IKAN MANDIRI DI LAMPUNG
SUKSES PROGRAM PAKAN
IKAN MANDIRI DI LAMPUNG
Lampung – Pakan mandiri
semakin menjadi andalan pembudidaya ikan skala kecil, terbukti pemanfaatannya
mampu memberikan nilai tambah keuntungan hingga 2 – 3 kali lipatnya, karena
mampu menekan biaya produksi 30% hingga 50%. Disisi kualitas, pakan mandiri
mampu bersaing dengan pakan pabrikan dengan harga yang lebih murah.
Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet
Soebjakto, saat temu lapang Gerpari (Gerakan Pakan Ikan Mandiri) Se-Provinsi
Lampung di Desa Marga Agung Kec. Jati Agung, Lampung Selatan, Rabu (25/9).
“Pemanfaatan pakan mandiri terbukti menjadikan pembudidaya lebih berdaya
dan ekonomi mereka akan semakin meningkat pula, sehingga program ini harus
terus didorong di seluruh Indonesia”, tutur Slamet.
Menurut Slamet, setidaknya ada 7 (tujuh) langkah strategi untuk mencapai
kemandirian pakan ikan nasional. Pertama, memastikan pakan mandiri diproduksi
melalui prinsip-prinsip Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB). Ini untuk
memastikan kualitas pakan dapat diterima dan dipercaya oleh masyarakat
pembudidaya ikan.
“Pakan mandiri ini harus memberikan nilai FCR (Food Convention Ratio)
dibawah 1, lalu daya cerna nya tinggi sehingga meningkatkan efisiensi produksi
budidaya. Harga pakan mandiri terjangkau namun berkualitas, kalau murah tapi
FCR-nya tinggi maka biaya produksi juga akan semakin tinggi”, pungkasnya.
Selain itu, pakan yang diproduksi ini harus minim dampaknya ke lingkungan
sekitarnya. “Pastikan pakan yang diproduksi rendah kandungan fospor, karena
unsur ini akan menyebabkan blooming alga akan menyebabkan kesuburan perairan
yang dapat membahayakan metabolisme ikan budidaya”, tegasnya.
Langkah kedua, mendorong penggunaan bahan baku alternatif berbasis lokal.
“Penggunaan bahan baku lokal yang berpotensi artinya bahan ini tidak bersaing
untuk peruntukan industri lain, tersedia sepanjang tahun dengan harga yang
konstan serta yang paling utama kandungan gizinya tinggi”, ucap Slamet.
Ia mengakui jenis bahan baku lokal di Indonesia sangat beragam, namun
informasi mengenai nilai nutrisi, anti nutrisi, ketersediaan dan rekomendasi
penggunaan dalam pakan ikan masih sedikit. “Sudah banyak kelompok yang
memproduksi pakan mandiri berbahan baku lokal, jadi mereka harus saling berbagi
infomasi kepada kelompok lain sehingga akan memperbanyak referensi terkait
bahan baku alternatif lokal”, bebernya.
Langkah ketiga ialah pendampingan bagi kelompok-kelompok pembudidaya ikan
maupun kelompok pembuat pakan. “Melalui kegiatan penyuluhan pembudidaya ikan
diajarkan cara pembuatan pakan skala rumah tangga mulai dari pemilhan bahan
baku, memformulasikan pakan, proses pembuatan pakan hingga pengemasan dan
penyimpanan pakan”, ujarnya.
Ia menyebutkan ada 15 Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen Perikanan
Budidaya di seluruh Indonesia yang dapat dijadikan referensi atau tempat
belajar bagaimana memproduksi pakan ikan mandiri.
Keempat terkait dengan kelembagaan. “Kedepannya, akan ada kelompok-kelompok
khusus gerakan pakan ikan mandiri biar kelompok pembudidaya ikan fokus saja
memproduksi ikan. Untuk kelompok pakan mandiri tugasnya memproduksi pakan mandiri
mulai dari tahap pengadonan, pencetakan, pengeringan hingga pengemasan,
sedangkan untuk penyedia, penyiapan bahan baku dan membuat formulasi pakan akan
dilakukan kelompok formulasi pakan”, kata Slamet.
Slamet menambahkan untuk pengelolaan usaha pakan mandiri ini akan dibentuk
koperasi khusus yang membantu dalam hal pengaturan keuangan. “Kelompok-kelompok
ini akan menjadi wadah kerjasama antar anggota dan pihak lain untuk mencapai
skala ekonomi dari segi kuantitas, kualitas, dan kontinuitasnya, serta mampu
menghadapi berbagai tantangan dan masalah yang mereka hadapi”, pungkasnya.
Lalu langkah kelima yaitu mempermudah proses registrasi pakan. “Kedepannya,
tidak ditutup kemungkinan bahwa pakan-pakan mandiri akan dikomersilkan,
sehingga jejaring pemasarannya juga akan bertambah, namun sebelum beredar pakan
ini harus teregistrasi dan terdaftar sehingga dapat diterima di masyarakat”,
tutur Slamet.
“Nantinya pelayanan izin peredaran pakan melalui Online Single Submission
(OSS), dengan terintegrasinya secara elektronik diharapkan prosesnya lebih
efisien, transparan dan akuntabel”, sebut Slamet.
Kemudian keenam, memperkuat kerjasama dengan berbagai pihak khususnya
asosiasi pakan ikan. “Peran asosiasi disini, untuk membantu pengembangan bahan
baku lokal untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku khususnya tepung
ikan, kemudian pengembangan dan inovasi mesin pakan aplikatif yang mudah
dioperasikn dan mudah perawatan”, ujar Slamet.
Terakhir, kata Slamet, perlu riset-riset dalam pengembangan pakan mandiri
sehingga nantinya dapat diterapkan pada pembudidaya ikan.
Sebagai bukti keberhasilan pakan mandiri di Provinsi Lampung, Perhimpunan
Kelompok Pembudidaya Ikan Mandiri Sentosa di Desa Marga Agung Kecamatan Jati
Agung Lampung Selatan berhasil memproduksi pakan ikan mandiri dengan
memanfaatkan berbagai bahan baku lokal.
“Kami berhasil memproduksi 15 – 18 ton pakan ikan per bulan, sementara
sebagian besar memang masih untuk mencukupi kebutuhan sendiri, sebagian lagi
dijual untuk pembudidaya ikan di Lampung Selatan dengan harga Rp. 6 ribu – Rp.
7 ribu per kg”, Akhmad Komari, Ketua Kelompok Mandiri Sentosa.
Diakui juga oleh Suroto pengguna pakan mandiri buatan Kelompok Mandiri
Sentosa bahwa kualitas pakan ini bisa menurunkan FCR. “Kalau dulu FCR 1:1,5
sekarang jadi 1:1. Sekarang bisa panen lele setiap 2 bulan sekali, jadi
keuntunganya per musim bisa dua kali lipat”, terang Suroto.
Disamping itu, Kelompok Mandiri Sentosa bersama Tim Pengabdian Masyarakat
Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sedang mengembangkan tanaman legum atau
dikenal dengan indigofera sebagi bahan baku alternatif peganti tepung ikan.
Beberapa referensi menyebutkan, Indigofera mengandung protein sebesar 23 - 26%,
selain itu kaya serat dan kalsium.
“Indigofera ini akan menjadi sumber pakan berkualitas tinggi dan paling
penting tersedia sepanjang tahun jadi bisa didapatkan meskipun pada musim
kemarau", tambah Akhmad.
Sukses serupa juga dialami pokdakan di Kabupaten Probolinggo. Ketua Berkah
Siangon, Wahyudiono menyebutkan pokdakan-nya mampu memproduksi pakan ikan air
tawar sebanyak 5 – 6 ton per bulan untuk mencukupi kebutuhan pakan bagi
pembudidaya ikan di Kecamatan Sumberasih Probolinggo dan sekitarnya dengan 100%
mengandalkan bahan baku lokal yang ada seperti ikan rucah, dedak padi, bungkil
kopra, ampas kecap dan tepung biskuit.
Dengan pemanfaatan pakan mandiri produksi Berkah Siongan ini, terbukti daya
cerna ikan lele menjadi lebih baik. Nilai FCR (konversi pemanfaatan pakan) lele
dari 1,5 dengan memanfaatkan pakan pabrikan turun menjadi 1,2 dengan penggunaan
pakan mandiri tersebut sehingga margin pembudidaya naik 50%, dulu keuntungan
per kg nya hanya Rp. 4 ribu sekarang jadi Rp. 6 ribu.
Pokdakan Ngupono Mina di Sleman DI Yogjakarta juga merasakan manfaat dengan
menggunakan pakan mandiri. Diakui oleh ketuanya Suharyanto, penggunaan pakan
mandiri mampu meningkatkan pendapatannya hingga 50%. Pokdakan ini mampu
memproduksi pakan mandiri 150 kg hingga 200 kg per hari, dari total tersebut
80% digunakan sendiri dan 20% dijual ke pembudidaya lain.
djpb1 25 September 2019 Dilihat :
458
sumber : KKP, DJPB https://kkp.go.id/djpb
Jumat, 11 Oktober 2019
Jumat, 02 Agustus 2019
SEGMENTASI PENDEDERAN GURAME
SEGMENTASI PENDEDERAN GURAME

Foto: rizki
Tiap ukuran pendederan ikan gurami mempunyai pasar
masing-masing
Gurami merupakan salah satu komoditas perikanan yang
cukup memiliki nilai ekonomis. Pasalnya, kini dari mulai rumah makan hingga
restoran mewah menyajikan ragam menu gurami. Namun siapa sangka dibalik
kelezatan dan manisnya daging gurami memiliki proses budidaya yang sangat panjang,
dan tak semua pembudidaya sabar memeliharanya.
“Gurami merupakan ikan yang mempunyai segmentasi
pendederan yang cukup banyak. Jika dihitung dari fase telur hingga ukuran panen
500 gram (gr) per ekor, memerlukan waktu kurang lebih 2 tahunan,” terang RC.R
Tjahyo yang merupakan pembudiaya gurami kawakan asal Kota Bekasi-Jawa
Barat.
Dia pun menjelaskan, pendederan merupakan fase
pemeliharaan ikan dari ukuran tertentu setelah pembenihan hingga mencapai
ukuran tertentu sebelum masuk fase pembesaran. Di budidaya gurami ini, banyak
ditemukan fase pendederan. Dimana pada umumnya dimulai dari pedederan telur
gurami hingga mencapai ukuran kuku jempol, kemudian silet, tiga jari, bahkan
sampai gurami ukuran 150 gr atau 1 kilogram (kg) isi 6 ekor masih tergolong
benih. Karena sejatinya pangsa pasar untuk gurami konsumsi menerima ukuran
minimal adalah 400-600 gr per ekor.
Kunci Pendederan
Karena fase pendederannya yang cukup banyak maka
baiknya dalam melakukan usaha budidaya gurami dilakukan secara berkelompok,
dengan tujuan agar mempercepat masa pemeliharaan dan juga masa panen. “Namun,
apabila ingin terjun dalam usaha budidaya gurami dan hanya berniat menjual
benihnya saja tidak menjadi persoalan. Karena di tiap-tiap ukuran pendederannya
mempunyai pasar masing-masing,” beber Tjahyo selaku ketua Kelompok Budidaya
Ikan (Pokdakan) Pamahan 1.
Fredrick Tiagita Putra yang juga salah satu anggota
Pokdakan Pamahan 1 dipercayai Tjahyo mengenai urusan benih gurami. Ia
menjelaskan, pendederan pertama gurami dimulai dari telur hingga ukuran kuku
jempol atau bisa distandarkan dengan ukuran bak sortir lele nomor 4-5. Jika
diukur panjang badan rata-rata benih sekitar 1,8 sentimeter (cm).
Pendederan pertama tersebut biasanya memerlukan waktu
selama 40-50 hari, dengan mengutamakan cacing sutera (Tubifex.sp) sebagai
pakannya. Setelah ukuran kuku jempol, sambung Fredrick, ukuran pendederan
selanjutnya adalah silet. Yang dimaksud disini adalah pemeliharaan benih gurami
dipelihara dari mulai kuku jempol hingga mencapai ukuran silet (pisau cukur
berbentuk persegi panjang). Dalam pemeliharaannya sudah menggunakan pakan
buatan berupa pelet dengan ukuran yang kecil menyesuaikan bukaan mulutnya.
Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pendederan kedua ini sekitar 1,5 - 2 bulan
tergantung dari iklim dan juga teknik perawatan.
“Kuncinya pada saat melakukan pemeliharan di fase
pendederan pertama dan kedua adalah pergantian air kolam yang rutin. Tujuannya,
untuk menjaga nafsu makan, sertamenjadi waktu penambahan vitamin tertentu.
Sehingga nantinya benih dapat tahan dengan perubahan cuaca yang ekstrim dan
pertumbuhannya cepat,” himbau Fredrick yang kini sedang menyelesaikan
pendidikan doktoralnya.
Menyambung Fredrick, Tjahyo mengungkapkan, indikator
benih gurami yang sehat ditandai dari nafsu makan yang rakus. Karena selama nafsu
makan benih rakus maka pertumbuhan ikan akan cepat besar.
Pendederan ketiga adalah mencapai ukuran tiga jari,
Tjahyo melanjutkan, pemeliharaan dari ukuran silet menuju tiga jari membutuhkan
waktu yang cukup lama sekitar 3 – 4 bulan. Dalam fase ini memiliki beberapa
sisi keuntungan karena ikan yang dipelihara dari ukuran silet cenderung
memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan dengan ukuran di bawahnya.
Sumber : di majalah TROBOS Aqua Edisi-85/15 Juni – 14
Juli 2019
Senin, 01 April 2019
KKP KEMBANGKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BARU, SISTEM BIOFLOK UNTUK IKAN NILA
KKP KEMBANGKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BARU,
SISTEM BIOFLOK UNTUK IKAN NILA
Setelah sebelumnya sukses mengembangkan teknologi budidaya sistem bioflok
untuk ikan Lele, kini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) bekerjasama dengan peneliti
Institut Pertanian Bogor (IPB) menerapkan teknologi ramah lingkungan tersebut
untuk ikan Nila.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sambutannya
saat launching Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok dan Sosialisasi Program
Prioritas di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi (Rabu
18/4), menyampaikan bahwa penerapan dan pengembangan budidaya Nila sistem
bioflok merupakan hasil inovasi tanpa henti yang terus dilakukan oleh DJPB
terhadap teknologi yang efektif dan efisien termasuk dalam penggunaan sumberdaya
air, lahan dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
”fenomena perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan global,
perkembangan dan ledakan jumlah penduduk merupakan tantangan dalam upaya
mewujudkan ketahanan pangan sehingga mau tidak mau harus diantisipasi, karena
secara langsung akan berdampak pada penurunan suplai bahan pangan bagi
masyarakat”ujarnya
“untuk itu, semua pelaku perikanan budidaya harus terus mengedepankan Iptek
dalam pengelolaan usaha budidaya ikan yang berkelanjutan. Intinya dengan
kondisi saat ini, produktivitas budidaya harus bisa dipacu dalam lahan terbatas
dan dengan penggunaan sumberdaya air yang efisien”, lanjutnya.
Terkait pengembangan di masyarakat, Slamet menyampaikan bahwa sebagaimana
untuk ikan lele yang saat ini sudah sangat populer, budidaya ikan Nila sistem
bioflok juga akan didorong pengembangannya di pesantren-pesantren dan kelompok
masyarakat lainnya serta di daerah-daerah terpencil, perbatasan dan potensial.
“teknologi bioflok ini akan terus didorong agar diterapkan terhadap
berbagai komoditas dan berbagai daerah sehingga menjadi solusi untuk memenuhi
kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk Nila di beberapa daerah
menjadi sumber gizi yang digemari, bahkan seperti di papua dan Lombok dan NTB
pada umumnya”, imbuh Slamet.
Seiring dengan penertiban keramba jaring apung (KJA) di perairan umum
seperti danau, waduk dan lainnya, Slamet optimis bahwa teknologi ini dapat
menjadi solusi bagi pembudidaya ikan yang selama ini mengandalkan perairan umum
sebagai tempat berbudidaya ikan Nila sebagai komoditas utamanya, agar pindah ke
daratan dan menerapkan teknologi bioflok.
Keunggulan Budidaya Nila Sistem Bioflok
Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi,
Supriyadi menjelaskan bahwa penerapan teknologi sistem bioflok untuk ikan Nila
tidak terlepas dari filosofi bahwa ikan ini secara alami merupakan ikan
herbivora dan mampu mencerna flok yang tersusun atas berbagai mikroorganisme,
yaitu bakteri, algae, zooplankton, fitoplankton, dan bahan organik sebagai
bagian sumber makanannya.
Sebagai informasi, ada beberapa keunggulan budidaya ikan Nila dengan sistem
bioflok, yaitu: pertama, dapat meningkatkan kelangsungan hidup atau survival
rate (SR) hingga lebih dari 90 % dan tanpa pergantian air. Air hasil budidaya
ikan nila dengan sistem bioflok tidak berbau, sehingga tidak mengganggu
lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya
sayur-sayuran dan buah-buahan. Hal ini dikarenakan adanya mikroorganisme yang
mampu mengurai limbah budidaya menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman.
Kedua, Feed Conversion Ratio (FCR) atau perbandingan antara berat pakan
yang telah diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total
(biomass) yang dihasilkan pada ikan nila mampu mencapai angka 1,03,
artinya penggunaan pakan sangat efisien untuk menghasilkan 1 kg ikan Nila
hanya membutuhkan 1,03 kg pakan. Jika dibandingkan dengan pemeliharaan di kolam
biasa FCRnya mencapai angka 1,5.
Ketiga, padat tebarnya pun mampu mencapai 100-150 ekor/m3 atau mencapai
10-15 kali lipat dibanding dengan pemeliharaan di kolam biasa yang hanya 10
ekor/m3.
Keempat, aplikasi sistem bioflok pada pembesaran ikan nila juga telah mampu
meningkatkan produktivitas hingga 25 – 30 kg/m3 atau 12-15 kali lipat jika
dibandingkan dengan di kolam biasa yaitu sebanyak 2 kg/m3.
Kelima, waktu pemeliharaan lebih singkat, dengan benih awal yang ditebar
berukuran 8 – 10 cm, selama 3 bulan pemeliharaan, benih tersebut mampu tumbuh
hingga ukuran 250 – 300 gram/ekor sedangkan untuk mencapai ukuran yang sama di
kolam biasa membutuhkan waktu 4-6 bulan.
Keenam, Ikan Nila dari hasil budidaya sistem bioflok lebih gemuk sebagai
hasil pencernaan makanan yang optimal. Komposisi daging atau karkasnya lebih
banyak, juga kandungan air dalam dagingnya lebih sedikit.
Secara bisnis, budidaya ikan Nila juga sangat menguntungkan. Harganya cukup
baik dan stabil di pasaran yaitu Rp. 22 ribu per kg.
Dalam pemeliharaan ikan Nila sistem bioflok yang perlu dijaga adalah
kandungan oksigen yang larut di dalam air, karena oksigen disamping diperlukan
ikan untuk pertumbuhan juga diperlukan oleh bakteri untuk menguraikan kotoran
atau sisa metabolisme di dalam air. Pada ikan nila, kadar oksigen terlarut (DO)
di dalam media sebaiknya dipertahankan minimal 3 mg/L.
"Saya mengingatkan agar teknologi bioflok di masyarakat bisa dikawal
oleh UPT-UPT dan para penyuluh agar tidak keliru menerapkannya, juga harus
diterapkan secara benar sesuai kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik
seperti benihnya harus unggul, pakannya harus sesuai standar SNI, parameter
kualitas air seperti oksigen juga harus tercukupi" pesan Slamet mengakhiri
sambutannya.
djpb1 18 April 2018 Dilihat :
12834
sumber :
KKP, DJPB https://kkp.go.id/djpb
Langganan:
Postingan (Atom)










