Senin, 13 November 2017

Ikan Waduk Batu Tegi (5.Tambakan)


Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)
Ikan Tambakan adalah salah satu jenis ikan air tawar yang berasal dari wilayah tropis, tepatnya Asia Tenggara. Ikan ini awalnya berasai dari Thailand hingga Indonesia sebelum akhirnya diintroduksi ke seluruh dunia. Ikan ini juga dikenal dengan nama gurami pencium karena kebiasaannya yang suka mencium-cium saat mengambil makanan dari permukaan benda padat maupun saat berduel antara sesama penjantan. Di Indonesia seniri ikan tambakan memiliki beberapa nama seperti Bawan, Biawan, hingga ikan samarinda.
Hasil gambar untuk ikan tambakan 
Ada 2 jenis ikan tambakan berdasarkan warnanya yaitu ikan tambakan berwarna hijau dan ikan tambakan berwarna pucat atau merah muda, namun mereka masih termasuk dalam spesies yang sama. Belakangan ada juga jenis ikan tambakan yang ukurannya lebih kecil dari ikan tambakan kebanyakan dan bentuknya bundar nyaris menyerupai balon. Variasi genetis ikan tersebut biasa dikenal dengan nama "gurami pencium kerdil" atau balon merah muda.

Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Animalia
Fillum : Chordata
Class : Actinopterygii
Ordo: Perciformes
Sub ordo : Anabantoidei
Familly : Helostomatidae
Genus : Helostoma
Species : Helostoma temminckii 

Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk pipih vertikal. sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran yang hampir serupa. Sirip ekornya nyaris berbentuk bundar mengarah cembung keluar, sementara sirip dadanya yang berjumlah sepasang juga berbentuk nyaris bundar. Di kedua sisi tubuhnya terdapat gurat sisi, yaitu pola berupa garis tipis yang berawal dari pangkal celah insangnya sampai pangkal sirip ekornya yang berjumlah kurang lebih 43 - 48 sisik yang menyusun gurat sisi tersebut. 


Ikan tambakan diketahui bisa tumbuh hingga mencapai ukuran 30 cm. salah satu ciri khas ikan tambakan ialah mulutnya yang memanjang. Karakteristik mulutnya yang menjulur kedepan membantunya mengambil makanan semisal lumut dari tempatnya melekat. Bibirnya diselimuiti semcam gigi yang bertanduk, namun gigi-gigi tersebut tidak ditemukan dibagian mulut lain seperti faring, premaksila, dentary dan langit-langit mulut. Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel-partikel makanan yang masuk besama dengan air. 


Tambakan merupakan ikan air tawar yang bersifat bentopegik yaitu hidup di antara permukaan dan wilayah dalam perairan. Habitatnt asli ikan tambakan umumnya berada di perairan tropis yang dangkal, beraus tenang dan terdapat banyak tanaman air. Pada awalnya ikan tambakan hanya ditemukan di perairan air atawar Asia Tenggara, namun belakang kini telah menyebar di seluruh wilayah beriklim hangat sebagai binatang Introduksi.



Sifat makan dari ikan tambakan ialah omnivora yang memakan segala jenis bahan makanan baik dari hewani maupun tumbuh-tumbuhan seperti serangga air, zooplankton, lumut, dan tanaman air. Bibirnya yang di lengkapi gigi-gigi kecil dapat membantunya mengambil makanan dari permukaan benda padat semisal batu. Ikan tambakan juga memi9liki tapis insang yang membantunya menyaring partikel plankton dari air. Saat sedang mencabut makanan yang menempel dipermukaan benda padat itulah yang terlihat bagi manusia solah-olah ikan ini sedang mencium benda tersebut.


Ikan tambakan termasuk jenis ikan yang mudah berkembang biak. Di habitatnya, dalam waktu kurang dari 15 bulan, populasi minimum mereka sudah bisa bertambah hingga dua kali lipat dari populasi awalnya. Reproduksi ikan tambakan sendiri terjadi ketika periode musim kawin sudah tiba. Di Thailand misalnya, musim kawin terjadi ikan tambakan terjadi pada bulan Mei hingga Oktober. 

Perkawinan ikan tambakan dilakukan di bawah tanaman air yang mengapung. Dimulai dari ikan betina yang melepaskan telur-telurnya dan dibuahi olah ikan jantan yang kemudian akan mengapung di antara tanaman air. Beda dengan anggota dari subordo anabantoidae lainnya, ikan tambakan tidak membuat sarang dan tidak menjaga anak-anaknya, Sehingga anak ikan tambakan yang baru menetas sudah harus mandiri. Sehari setelah induk betinal mengeluarkan telurnya, Telur-telur tersebut akan menetas dan sekita 2 hari anak-anak ikan tambakanpun segera dapat berenang bebas.



Ikan Tambakan juga dijuluki sebagai ikan pencium karena kebiasaanya yang menggunakan bibirnya yeng terlihat mencium benda-benda padat maupun mencium ikan tambakan lainnya. Sebenarnya tambakan tidak benar-benar mencium. Saat terlihat mencium benda-benda padat semisal batu, ikan ini sebenarnya sedang menggerogoti makanan yang menepel pada permukaan benda padat tersebut. 


Terkada ikan tambakan jantan kedapati sedang beradu bibir dengan pejantan lainnya yeng akan terlihat seperti sedang bercium-ciuman. hal ini sebetulnya para penjantan ikan tambakan sedang menegaskan supremasi atas pejantan lainnya saat menjaga wilayah kekuasaan. Perilaku adu bibir ini tidak sampai mengakibatkan cidera pada ikan tambakan, namu di dalam tangkapan, ikan tambakan jantan yang terus menerus kalah usai duel adu bibir bisa mati akibat stress. 




Ikan tambakan sudah sejak lama membawa manfaat bagi manusia. Di wilayah aslinya di Asia Tenggara, ikan ini dibudidayakan untuk dimanfaatkan dagingnya sebagai konsumsi. Ikan tambakan juga biasa dipancing di alam liar. Belakangan, ikan tambakan juga menjadi salah satu komoditas ikan hias air tawar karena memiliki wujud dan perilaku yang unik.

Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_tambakan
http://www.infoikan.com/2017/01/budidaya-ikan-tambakan-helostoma.html
https://www.dunia-perairan.com/2017/02/ikan-tambakan-helostoma-temminckii.html

Ikan Waduk Batu Tegi (4. Patin)

Mengenal Ikan Patin
Hasil gambar untuk patin raksasa


Ikan Patin adalah sekelompok ikan berkumis (Siluriformes) yang termasuk dalam genus Pangasiusfamili Pangasiidae. Nama "patin" juga disematkan pada salah satu anggotanya, P. nasutus. Kelompok hewan ini banyak yang bernilai ekonomi, seperti patin dan patin siam (P. hypophthalmus syn. P. sutchi, atau beberapa pustaka menyebutnya jambal siam). Beberapa anggotanya yang hidup di Sungai Mekong dikenal berukuran sangat besar, mencapai panjang dua meter lebih.

sumber 
https://id.wikipedia.org/wiki/Patin

Ikan Waduk Batu Tegi (3.Baung)

Sekilas Mengenal Ikan Baung (Mystus nemurus) 
Hasil gambar untuk mengenal ikan baung
Ikan Baung (Mystus nemurus) merupakan komoditas ikan air tawar di Indonesia. Ikan ini telah berhasil dipijahkan secara buatan oleh BBPBAT Sukabumi sejak tahun 1988. Tekstur daging ikan baung berwarna putih, tebal dan tanpa duri halus di dalam dagingnya, sehingga sangat disukai oleh masyarakat. Selama ini produksi ikan baung kebanyakan didapat dari penangkapan di alam (sungai/danau). Oleh karenanya hasil produksi tidak menentu baik dalam jumlah maupun ukurannya. Dengan berhasil diketahuinya teknik pemijahan ikan baung, maka dapat diharapkan usaha budidaya ikan tersebut akan berkembang. Sehingga produksi ikan baung dapat memenuhi permintaan masyarakat akan ikan air tawar jenis ini. Klasifikasi Ilmiah Ikan Baung: Philum : Chordata Kelas : Pisces Anak Kelas : Teleostei Bangsa : Siluridae Suku : Bagridae Marga : Mystus Jenis : M. nemurus Ikan baung memiliki ciri fisik berkumis atau sungut yang mencapai mata. Badan ikan baung tidak bersisik dan mempunyai sirip dada serta sirip lemak berukuran besar. Ikan baung memiliki bentuk mulut melengkung. Warna tubuh ikan baung coklat kehijauan. Habitat alami dari ikan baung adalah dasar perairan air tawar. Ikan ini bersifat omnivora. Secara lokal ikan baung memiliki berbagai nama. Di Jawa Barat ikan baung dikenal dengan nama ikan tagih, senggal atau singah. Di Jawa Tengah dinamakan ikan tageh. Di Jabodetabek ataupun Malaysia menyebutnya sebagai ikan bawon. Di Serawak menyebutnya ikan baon. Sedangkan di Kalimantan Tengah ikan ini dikenal sebagai ikan niken, siken, tiken, bato, atau baung putih, dan di Sumatera dikenal sebagai ikan baong.

Sumber: 
https://kuliah-ikan.blogspot.com/2011/02/sekilas-mengenal-ikan-baung-mystus.html
Harap cantumkan sumber bila mengkopi post ini. Copyright dilindungi!

Ikan Waduk Batutegi (2. Ikan Betutu)


Hasil gambar untuk Ikan betutu
Betutu (Oxyeleotris marmorata) adalah nama sejenis ikan air tawar. Meskipun agak jarang yang berukuran besar, ikan yang menyebar di Asia Tenggara hingga Kepulauan Nusantara ini digemari pemancing karena betotan (tarikan)nya yang kuat dan tiba-tiba.
Nama-nama lainnya di pelbagai daerah di Indonesia adalah bakutbakututbelosoh (nama umum), bosobobosobodobodo, ikan bodoh, gabus bodoh, ketutuk, ikan malas, ikan hantu dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris disebut marble goby atau marble sleeper, merujuk pada pola-pola warna di tubuhnya yang serupa batu pualam kemerahan.

Ikan bertubuh kecil sampai sedang dengan kepala yang besar. Panjang tubuh (SL, standard length) maksimum hingga sekitar 65 cm[1], namun kebanyakan hanya antara 20–40 cm atau kurang. Berwarna merah bata pudar, kecoklatan atau kehitaman, dengan pola-pola gelap simetris di tubuhnya. Tanpa bercak bulat (ocellus) di pangkal ekornya.[2]
Sirip dorsal (punggung) yang sebelah muka dengan enam jari-jari yang keras (duri); dan yang sebelah belakang dengan satu duri dan sembilan jari-jari yang lunak. Sirip anal dengan satu duri dan 7–8 jari-jari lunak. Sisik-sisik di tengah punggung, dari belakang kepala hingga pangkal sirip dorsal (predorsal scales) 60–65 buah. Sisik-sisik di sisi tubuh, di sepanjang gurat sisi (lateral row scales) 80–90 buah.[2]
Seperti dicerminkan oleh namanya, ikan ini malas bergerak atau berpindah tempat. Ia cenderung diam saja di dasar perairan, sekalipun diusik. Hanya di malam hari betutu agak aktif, memburu udang, ikan-ikan kecil, yuyu, atau siput air. Ikan betutu didapati di sungai-sungai di bagian yang terlindung, rawawaduk, saluran air atau parit.[1]
Sumber
https://id.wikipedia.org/wiki/Betutu

Ikan Waduk Batutegi ( 1. Hampala)

Hampala yang juga disebut Palung (Jawa) atau Sebarau (Sumatera) adalah salah satu ikan air tawar yang tersebar di beberapa kawasan di asia tenggara. Di Indonesia sendiri ikan ini banyak dijumpai di pulau Kalimantan, Sumatera dan sebagian Jawa, akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa awal mula adanya ikan ini di pulau jawa dikarenakan hasil introduksi dari Kalimantan. Yakni orang-orang zaman dahulu membawa hampala dari Kalimantan ke Jawa untuk dikembangbiakan di kolam sebagai ikan konsumsi, pada musim penghujan kolam tempat penampungan hampala meluap dan menyebabkan banyak hampala lepas ke sungai sehingga ikan ini lambat laun berkembang biak disungai hingga pada akhirnya tersebar di jawa. Namun saya kurang setuju dengan pendapat tersebut, saya yakin ikan hampala memang asli endemik jawa, karena ikan ini memiliki nama lokal di jawa, seperti di daerah Jogja, orang-orang jogja menamai ikan ini dengan sebutan ikan palung. Suatu nama lokal tercipta karena masyarakat sering bersinggungan dengan suatu hal dalam kurun masa ratusan hingga ribuan tahun. Coba kita bandingkan dengan ikan nila, ikan asal Afrika yang sudah lama mendiami sungai-sungai di pulau jawa, bahkan telah dianggap oleh sebagian orang sebagai ikan lokal jawa. Walaupun demikian, di jawa ikan nila tak punya nama lokal dan hanya memiliki nama serapan dari nama ilmiahnya, yakni niloticus atau nile.

Kerajaan:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Actinopterygii
Ordo:Cypriniformes
Famili:Cyprinidae
Genus:Hampala
Spesies:H. macrolepidota

Karakter
Hampala termasuk ikan predator, yaitu ikan yang memakan hewan lainnya. Makanannya berupa hewan yang lebih kecil terutama udang dan ikan, tetapi di kondisi tertentu (terdesak) mereka dapat makan biji-bijian. Di beberapa akuarium milik penghobi ikan hias, hampala juga ada yang bisa dibiasakan makan pelet. Hampala adalah ikan yang menarik bagi kolektor ikan hias disamping karena warnanya yang cantik dan keaktifannya bergerak, sifat predatornya juga memiliki daya tarik tersendiri. Dikalangan pemancing ikan ini terkenal karena punya daya "fight" yang dahsyattttt. Hampala juga termasuk salah satu ikan air tawar berukuran besar (monster) karena dapat mencapai panjang maksimal satu meter.

Hampala sebagai ikan hias
Saya pertama kali mengenal ikan ini saat masih kuliah di Jogja, tepatnya saat bekunjung di rumah salah satu teman saya yang juga penghobi ikan hias. Mulai dari situ saya mulai mencari tahu tentang ikan ini. Ikan hampala pertama yang saya pelihara kudapat dari memancing (nyari gratisan) di salah satu sungai di Jogja awal tahun 2013.  Sekarang ini sudah banyak tukang ikan hias yang menjual ikan hampala, karena peminatnya memang banyak. Ikan hampala biasanya di peroleh pedagang dengan mengandalakan tangkapan alam, karena memang jarang yang mengembangbiakkan ikan ini.
Di Semarang, Malang dan Jakarta ikan hampala di jual dengan harga yang lumayan mahal. karena para pedagang ikan hias di tempat-tempat tersebut biasanya membeli hampala di pedagang ikan hias di daerah Jawa bagian selatan seperti Jogja dan Magelang.
Ikan hampala adalah ikan yang menyenangkan, kalau sudah jinak ikan ini akan mendekat jika pemilik akan memberi makan. Jangan ngaku penghobi ikan predator kalau belum pelihara ikan ini hahahaha oh iya, meskipun ikan ini laku di pasaran, tetap jaga keberadaannya di alam ya! jangan di eksploitasi habis-habisan, kalau bisa malah dibreed sekalian. Ramahlah kepada alam, maka alam akan ramah kepadamu. (teddy)

Sumber 
https://pihiku.blogspot.com/2014/10/ikan-hampala-hampala-macrolepidota.html

Senin, 04 September 2017

Ikan Betutu, Si Malas Berharga Mahal

Ikan Betutu, Si Malas Berharga Mahal

February 9, 2017
Ikan betutu memang belum terlalu terkenal sebagai bahan masakan di Indonesia. Namun, nama ikan betutu sebenarnya sudah cukup mendunia. Ikan yang mempunyai daging gurih ini berharga mahal, kerap disajikan sebagai menu di berbagai restoran mewah dan hotel berbintang.

Harga menu ikan betutu di restoran-restoran mewah dan hotel berbintang dapat mencapai Rp 200 ribu hingga 300 ribu per kilogram. Bandar ikan betutu biasanya menjual ikan betutu dalam kisaran harga 150-180 ribu rupiah/kg. 
 foto dokumentasi: Ong Wien Kai

Alasan ikan betutu berharga mahal karena dagingnya putih, empuk, cita rasa lezat, dan nyaris tidak bertulang. Ikan betutu dipercaya mengandung khasiat dapat menambah kehalusan kulit karena banyak mengandung vitamin B1, B2, B6, F, dan vitamin E, sehingga dapat memperlambat proses penuaan. Ikan ini juga dipercaya memiliki banyak enzim dan hormon tertentu untuk menambah vitalitas laki-laki.

Ikan betutu dikenal dengan banyak nama lain, diantaranya adalah ikan malas, bakut, bakutut, belosoh, gabus bodoh, atau ikan hantu. Di kawasan Danau Toba, ikan ini dikenal sebagai ikan sioto. Orang Tiongkok mengenalnya sebagai Soon Hock. Sedangkan dalam bahasa Inggris, ikan ini disebut marble sleeper atau marble goby
 olahan masakan steam ikan malas/ foto dokumentasi: yos mo

Ikan betutu dijuluki sebagai ikan malas atau ikan bodoh karena sifatnya yang memang sangat pemalas. Ikan malas tahan berjam-jam tidak bergeser dari tempatnya. Kalau sedang kenyang, ikan malas tidak mau menyentuh makanan yang lewat di hadapannya. 

Apabila dilihat secara sepintas, tampang ikan betutu lumayan menyeramkan. Bentuk muka cekung dengan ujung kepala gepeng, matanya besar menonjol keluar dan dapat digerakkan. Mulut ikan malas lebar, tebal, dengan gigi – gigi kecil tajam, sehingga ikan ini disebut sebagai ikan hantu.

Ikan betutu hidup di air tawar, menyukai tempat yang tenang atau di lokasi yang arus airnya tidak deras dan terlindung oleh tumbuhan air. Ikan malas senang menempel di dasar perairan yang berlumpur pada kedalaman kira – kira 40 cm. Ikan ini suk berlindung di balik batu–batuan atau tumbuhan air sebagai tempat mengintip mangsa, dan hanya sesekali saja menyembul ke permukaan.

Ikan malas sudah dapat dibudidayakan di beberapa tempat di Indonesia, contohnya pembudidayaan betutu di kawasan Waduk Cirata. Ikan malas dapat juga dibudidayakan di dalam kolam rumah. Kedalaman kolam tempat budidaya ikan malas minimal satu meter.

Pembudidayaan ikan betutu cukup mudah, karena ikan ini gampang beradaptasi dengan perubahan cuaca, serta dapat hidup di lingkungan air yang kotor. Tetapi, kondisi lingkungan pemeliharaan ikan betutu tetap harus dikontrol bersih, agar ikan tidak terserang penyakit jamur.

Kendala yang saat ini masih dihadapi oleh pembudidaya ikan betutu di Indonesia yaitu masih kesulitan untuk mendapatkan benih secara teratur.

Selain itu, ikan betutu tidak cocok diberikan pakan pelet atau pakan buatan, karena sifat ikan ini karnivora, senang memburu hewan air hidup yang kaya akan protein. Ikan betutu enggan untuk menghampiri makanan yang disediakan. Ikan betutu baru mau menyambar ikan-ikan kecil yang lewat di depannya saat perutnya terasa lapar. Setelah kenyang, ikan malas kembali berdiam lagi di tempatnya selama berjam-jam.

Waktu pemeliharaan ikan betutu cukup panjang, membutuhkan waktu berkisar 8 hingga 12 bulan pemeliharaan hingga panen untuk mendapatkan ikan ukuran konsumsi seberat 350-400 gram/ekor berukuran 20-25 cm. Karena itu disarankan benih betutu yang ditebarkan ke dalam kolam pemeliharaan seberat 100-200 gram/ekor.

Waktu pemeliharaan yang lama untungnya terbayar dengan harga jual ikan malas yang tinggi dengan segmen pasar restoran elit dan hotel berbintang, sehingga pembudidaya dapat meraup keuntungan yang menggiurkan.

sumber 
https://www.isw.co.id/single-post/2017/02/09/